• 595
  • 708
  • 25
  • 1
  • 1
  • 0.06
  • true
  • true
  • true
  • false
  • false
  • true
  • false
  • 1
  • double

Pertamina Siap Wujudkan Kemandirian Energi

Kebutuhan energi untuk menunjang kegiatan perekonomian nasional terus mengalami peningkatan setiap tahun. Sebagai upaya dalam pemenuhan kebutuhan energi tersebut serta mewujudkan ketahanan dan kemandirian energi negeri, Pemerintah melalui Komite Percepatan Penyediaan Infrastruktur Prioritas (KPPIP) mendorong kegiatan Proyek Strategis Nasional (PSN) agar segera terselesaikan. PSN merupakan proyek strategis yang dilaksanakan untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi, kesejahteraan masyarakat dan pemerataan pembangunan.

Salah satu PSN di bidang energi adalah pengembangan produksi kilang minyak yang dilaksanakan oleh PT Kilang Pertamina Balikpapan, anak Perusahaan dari PT Kilang Pertamina Internasional yang merupakan Subholding Refining & Petrochemical PT Pertamina (Persero) melalui Refinery Deve- lopment Master Plan (RDMP) RU V Balikpapan.

01

Refinery Unit (RU) V Balikpapan sebelumnya memiliki kapasitas yang setara dengan 25% dari kapasitas intake nasional dan market share BBM 15,6% skala nasional.

02

Pemerintah terus mendorong percepatan kegiatan proyek Refinery Development Master Plan (RDMP) Balikpapan dalam upaya meningkatkan kapasitas produksi untuk mendukung kemandirian energi nasional.

03

Peningkatan kapasitas pengolahan kilang dari 260.000 barel menjadi 360.000 barel per hari, sekaligus produk berkualitas Euro II menjadi Euro V.

04

PT Kilang Pertamina Balikpapan akan mentransformasi kilang dalam empat aspek yakni Crude Flexibility, Profitability, Energy Security, dan Product Quality.

05

Membangun pondasi dengan kokoh untuk proyek RDMP RU V Balikpapan sejak tahun 2016 hingga 2022.

Berbekal ambisi serta motivasi yang kuat, PT Kilang Pertamina Balikpapan siap membawa tonggak sejarah serta harapan Indonesia dalam mewujudkan kemandirian energi.

Selayang Padang

Dengan penuh sukacita yang luar biasa, PT Kilang Pertamina Internasional mempersembahkan Kaleidoskop Early Work dengan tajuk “Membangun Pondasi Penuh Sinergi, Wujudkan Mimpi Demi Negeri”. Kaleidoskop ini merupakan kumpulan cerita dan pengalaman inspiratif dalam berbagai proyek yang telah dilakukan oleh PT Kilang Pertamina Balikpapan.

Dalam buku kaleidoskop ini, pembaca bisa belajar sekaligus eksplorasi 14 proyek yang telah selesai dikerjakan oleh PT Kilang Pertamina Balikpapan. 14 proyek ini dilaksanakan pada tahap awal fase eksekusi Proyek RDMP RU V Balikpapan atau yang lebih dikenal sebagai proyek-proyek Early Work. Dengan dilaksanakannya penyiapan lahan dan fasilitas pendukung pada proyek Early Work ini diharapkan sebagai langkah akselerasi penyelesaian proyek utama RDMP. Setiap proyek yang dikerjakan memiliki ceritanya sendiri, tantangan yang dihadapi, keberhasilan yang dicapai, dan pembelajaran berharga yang dapat diambil.

Melalui buku kaleidoskop ini, PT Kilang Pertamina Internasional berharap dapat membawa pembaca dalam perjalanan yang mengagumkan melalui perspektif berbagai pihak yang terlibat dalam setiap proyek. Dari pihak manajemen hingga pelaksana teknis yang berdedikasi dalam mewujudkan impian besar tanah air. Setiap individu memberikan kontribusi terbaiknya menciptakan dampak positif dalam industri energi dan masyarakat secara luas.

Kaleidoskop ini juga menampilkan inovasi serta teknologi terkini yang digunakan dalam setiap proyek di fase Early Work ini, serta bagaimana PT Kilang Pertamina Balikpapan terus beradaptasi dengan perubahan lingkungan secara dinamis. Seiring dengan transformasi energi global dan tantangan dalam menjaga keberlanjutan, PT Kilang Pertamina Balikpapan mengambil setiap langkah strategis guna memastikan kelangsungan operasional serta kontribusi dalam menciptakan masa depan kemandirian energi yang lebih baik.

Direksi dan Manajemen PT Kilang Internasional serta PT Kilang Pertamina Balikpapan berterima kasih kepada seluruh pihak dan tim yang telah memberikan kontribusi besarnya atas keberhasilan menjalani proyek Early Work dari tahun 2016 ini.

Akhir kata, PT Kilang Pertamina Internasional berharap bahwa buku kaleidoskop dengan tajuk “Membangun Pondasi Penuh Sinergi, Wujudkan Mimpi Demi Negeri” ini mampu membawa setiap pembacanya menyelami perjalanan yang mendalam dan memikat melalui jendela proyek-proyek yang menakjubkan di PT Kilang Pertamina Balikpapan. Semoga buku kaleidoskop ini menjadi sebuah sumber inspirasi dan wawasan, serta memperkuat semangat kita dalam menyelesaikan proyek RDMP RU V Balikpapan dengan cita cita mulia menyediakan pasokan energi terbaik ke pelosok negeri serta mewujudkan kemandirian energi.


Jakarta, September 2023

Kilas Balik

Dimulai dengan visi untuk negeri berlanjut dengan dedikasi tanpa henti. Sepanjang perjalanan proyek Early Work, PT Kilang Pertamina Balikpapan telah menunjukkan sinergi–hasil kolektif pengetahuan, keterampilan, inovasi, serta kerjasama yang solid dalam meletakkan sebuah pondasi. Serangkaian proses panjang dalam menyelesaikan 14 proyek menjadi sarana yang tepat untuk mendalami kilas balik proyek Early Work. Mari melangkah bersama menuju cerita penuh dengan makna.

Rohmadi

Sr Manager Project Quality Planning, Audit & Assurance

Novriandi

Sr Engineer II Project Insp. Non Process

Rohmat Hidayat

Jr Engineer II Project Insp. Non Process

Nur Endah Fitriianto

Sr Officer I Project Quality & Audit Rep

Syarifah Farida Alhabsyi

Sr Officer I Project Quality & Audit Rep

Whiny Hardiyati Erliana

Jr Officer I Quality Management

Ibnu Khoirul Fajar

Corporate Secretary

Andi Pardede

Corporate Secretary

Pengantar Direksi

Sinergi antara pemimpin yang selalu menginspirasi dan setiap pekerja yang berdedikasi dalam mencapai kesuksesan penyelesaian 14 proyek Early Work ini. Apresiasi disampaikan oleh para Direksi untuk para pekerja dan segenap pihak yang terlibat dalam proyek Early Work. Kaleidoskop ini diharapkan dapat menjadi inspirasi dan memberikan semangat bagi para insan perusahaan untuk berkarya bagi negeri.

Kalimat sambutan dan pengantar yang disampaikan oleh pihak manajemen.

Pengantar Direksi

Direktur Proyek Infrastruktur PT KPI

Nyalakan Semangat Bersama untuk Masa Depan Pertamina

PT Pertamina (Persero) melalui Subholding Refining & Petrochemical, PT Kilang Pertamina Internasional mendapatkan tanggung jawab besar untuk pengembangan produksi kilang minyak melalui Proyek Strategis Nasional RDMP RU V Balikpapan. Kepercayaan yang diberikan kepada PT Kilang Pertamina Internasional pun ditindaklanjuti dengan penunjukan PT Kilang Pertamina Balikpapan sebagai pelaksana proyek yang mendapat dukungan penuh dari Perusahaan dengan target operasional dapat dirampungkan pada tahun 2024.

Akselerasi pun dijalankan melalui pekerjaan pendahuluan Early Work dengan 14 proyek-nya yang berhasil terselesaikan dengan baik bahkan di tengah pandemi COVID-19. Sebuah pencapaian dan kinerja terbaik para pekerja untuk proyek Early Work patut mendapatkan apresiasi serta menjadi kebanggaan bagi PT Kilang Pertamina Internasional. Terselesaikannya Early Work melalui 14 proyek menunjukkan bahwa keandalan dalam manajemen proyek merupakan hal yang krusial dalam pelaksanaan RDMP RU V Balikpapan.

PT Kilang Pertamina Internasional memonitor, memberikan dukungan sumber daya, berkoordinasi dengan PT Kilang Pertamina Balikpapan secara berkesinambungan. Sinergitas yang telah berjalan dan dibangun terus ditingkatkan mengingat proyek RDMP RU V Balikpapan adalah sebuah proyek dengan nilai investasi dan tanggung jawab terhadap perwujudan ketahanan energi di masa depan. Sejumlah terobosan dilakukan terutama melalui peningkatan kinerja. Tim Kilang Pertamina Balikpapan terus beroperasi dan bekerja secara konsisten melalui berbagai kendala pembatasan COVID-19 dan pelaksanaan proyek Early Work yang berada di area kilang eksisting.

Kendala pembangunan Early Work tersebut tidak mengerucutkan semangat, namun pada akhirnya menjadi sarana pengembangan kompetensi. Berbagai inovasi yang diimplementasikan pada proyek Early Work berhasil mendapatkan penghargaan dalam Continuous Improvement Program (CIP) Pertamina.

Keberhasilan ini kian menguatkan peran Early Work sebagai pondasi RDMP RU V Balikpapan yang mengakomodir fasilitas bagi pekerja melalui pembangunan apartemen serta pe- ningkatan kapasitas produksi melalui berbagai pekerjaan persiapan lahan, relokasi, dan pembangunan infrastruktur seperti fasilitas Jetty untuk pengembangan kilang.

Kilang RU V Balikpapan yang menjadi kilang terbesar kedua milik Pertamina di Indonesia ini diproyeksikan akan meningkatkan produksi menjadi 360 ribu barrel per hari dan kualitas produk menjadi Euro 5.

Bahu Membahu untuk Terus Memberikan Kontribusi bagi Negeri

Mewujudkan kemandirian energi melalui proyek RDMP RU V bukan tugas yang mudah. Namun, PT Kilang Pertamina Internasional terus bersinergi, bahu membahu dengan satu tujuan, yakni bekerja memberikan energi positif untuk mencapai tujuan berkelanjutan. Terselesaikannya proyek Early Work adalah sebuah permulaan yang dapat menjadi pembelajaran berharga.

Melalui Kaleidoskop ini, diharapkan insan Pertamina bisa memaknai perjuangan dari rekan PT Kilang Pertamina Balikpapan dan bersama-bersama menguatkan langkah demi masa depan Pertamina. Seperti Early Work yang ditujukan sebagai pondasi RDMP RU Balikpapan, mari terus kita jaga dan nyalakan semangat sebagai bentuk kontribusi bagi kemandirian energi Indonesia.

Feri Yani

Direktur Utama PT Kilang Pertamina Balikpapan

Upaya PT Kilang Pertamina Balikpapan dalam Mendukung Proyek Strategis Pertamina

Proyek Refinery Development Master Plan (RDMP) RU V Balikpapan merupakan salah satu Proyek Strategis Nasional (PSN) yang dilaksanakan oleh PT Kilang Pertamina Balikpapan, anak perusahaan PT Kilang Pertamina Internasional (PT KPI) yang merupakan subholding pengolahan dan petrokimia bentukan PT Pertamina (Persero).Proyek RDMP RU V Balikpapan bukan hanya ditujukan untuk peningkatan kapasitas pengolahan kilang, namun secara komprehensif akan berpengaruh terhadap peningkatan kuantitas dan kualitas produk serta kemampuan kilang.

Proyek RDMP Balikpapan akan meningkatkan kapasitas pengolahan kilang yang semula 260 KBPD menjadi 360 KBPD dengan peningkatan kualitas produk dari Euro II menjadi Euro V. Lebih lanjut, kompleksitas kilang meningkat dari 3.7 menjadi 8 untuk yang dihitung melalui Nelson Complexity Index.

Mempertimbangkan peran signifikan Proyek RDMP RU V Balikpapan, PT Kilang Pertamina Internasional melalui PT Kilang Pertamina Balikpapan melakukan persiapan pelaksanaan proyek dengan melaksanakan pekerjaan pendahuluan atau biasa disebut dengan Early Work yang terdiri dari 14 proyek. Pelaksanaan proyek RDMP RU V Balikpapan memiliki tantangan yang cukup besar dikarenakan dilakukan di brown area, yakni di area Kilang RU V Balikpapan yang harus tetap beroperasi menghasilkan produk BBM,

sehingga eksekusi pekerjaan Early Work membutuhkan kecermatan dan perencanaan matang agar tidak mempengaruhi kondisi dan performa kilang eksisting. Menghadapi kompleksitas skala pekerjaan dan kendala di lapangan tidak menyurutkan semangat PT Kilang Pertamina Balikpapan. Apresiasi disampaikan kepada para pekerja PT Kilang Pertamina Balikpapan karena berhasil menyelesaikan pekerjaan Early Work dengan optimal.

Kunci Keberhasilan PT Kilang Pertamina Balikpapan dalam Menyelesaikan Early Work

Semangat PT Kilang Pertamina Balikpapan dalam perwujudan RDMP RU V Balikpapan tidak lepas dari aspirasi Perusahaan menjadi kilang kelas dunia yang kompetitif dan ramah lingkungan. Melalui komitmen PT Kilang Pertamina Balikpapan untuk mengelola operasional kilang yang aman, handal, efisien dan ramah lingkungan demi ketersediaan kebutuhan energi yang berkelanjutan, Perusahaan mengembangkan inovasi dan fleksibilitas untuk memaksimalkan variabel produk dan memberikan manfaat kepada stakeholder.

Aspirasi dan langkah strategis tersebut mendorong kinerja PT Kilang Pertamina Balikpapan dalam mewujudkan kesuksesan proyek Early Work. Pembangunan dan pengembangan kilang RDMP RU V Balikpapan sebagai salah satu Proyek Strategis Nasional mendapatkan dukungan penuh Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah.

Dukungan ini kian menguatkan sinergi antar entitas Pertamina Group yang telah berjalan dengan baik. Sinergi ini akan menjamin kelancaran dan keandalan proyek dan operasi kilang. Sebagai Pemegang Saham terbesar PT Kilang Pertamina Balikpapan, PT Kilang Pertamina Internasional telah memiliki Sistem Tata Kelola (STK), sistem manajemen dan SDM yang memadai dalam pengelolaan proyek sehingga Early Work menjadi inisiasi dengan keandalan sumber daya. Secara berkesinambungan, PT Kilang Pertamina Balikpapan secara aktif mendorong kultur keamanan dan keselamatan kerja di lapangan untuk meminimalisir risiko di lingkungan yang high risk. Hingga saat ini, PT Kilang Pertamina Balikpapan telah mencapai 121 juta jam kerja aman. Perkembangan dan pencapaian selama tahapan Early Work ini diharapkan bisa tetap konsisten hingga proyek RDMP RU V Balikpapan selesai.

Kontribusi PT Kilang Pertamina Balikpapan untuk Indonesia

Early Work merupakan inisiasi dan tahapan proyek yang pertama kalinya ada pada sejarah Pertamina. Terselesaikannya proyek Early Work untuk RDMP RU V Balikpapan akan menjadi pengalaman dalam menangani proyek infrastruktur berskala besar dengan nilai investasi yang cukup besar. Karenanya, terselesaikannya proyek RDMP RU V Balikpapan ini akan berkontribusi bagi Indonesia dan pekerjaan kami adalah bentuk dukungan untuk memperkuat ketahanan energi nasional dan kemandirian bagi bangsa. Menjadi catatan penting bahwa Early Work Proyek RDMP RU V Balikpapan mencakup hampir seluruhnya berupa pekerjaan penyiapan lahan proyek, sarana dan fasilitas yang dapat menunjang kelancaran proyek.

Sebuah tahapan krusial dan ada dalam setiap proyek. Mengingat skala Proyek RDMP RU V Balikpapan yang relatif lebih besar dibandingkan proyek Pertamina sebelum nya di sektor refinery, maka semua hal yang terkait dengan tahapan Early Work proyek RDMP RU V Balikpapan yang terefleksikan dalam buku Kaleidoskop ini diharapkan dapat menjadi acuan bagi proyek-proyek Pertamina di masa depan.

Djoko Koen Soewito

Direktur Pengembangan PT KPB.

Memaknai Early Work sebagai Sebuah Legasi untuk Negeri

Salah satu proyek Strategis Nasional, RDMP RU V Balikpapan merupakan inisiasi yang harus terus didorong percepatannya. Sebagai pelaksana proyek, PT Kilang Pertamina Balikpapan memberikan kinerja terbaik untuk mewujudkan keberlangsungan proyek RDMP RU V Balikpapan. Tahapan yang telah dilakukan yakni terselesaikannya proyek Early Work pekerjaan pendahuluan melalui 14 proyek, seperti pekerjaan persiapan lahan, relokasi, pembangunan fasilitas untuk operasional kilang dan kesejahteraan pekerja dengan baik.

Proyek Early Work di Kilang Balikpapan memiliki tantangan luar biasa, mulai dari pembangunan yang berada di area kilang eksisting hingga pandemi COVID-19 yang menjadi krisis bagi kelangsungan pembangunan di seluruh du-nia, tidak terkecuali RDMP RU V Balikpapan. Berbagai kendala yang dihadapi oleh tim PT Kilang Pertamina Balikpapan dalam pengerjaan proyek Early Work menjadi pembelajaran berharga sekaligus bukti kekuatan sinergi dan keandalan PT Kilang Pertamina Balikpapan

Terima kasih dan apresiasi tertinggi kepada seluruh pihak terutama dedikasi para pekerja yang telah berjuang mewujudkan keberhasilan Early Work.

Perjalanan Early Work menempuh proses panjang sejak perencanaan proyek RDMP RU V Balikpapan. Skala RDMP RU V Balikpapan dengan nilai investasi mencapai 7,2 miliar dolar membutuhkan persiapan yang lebih komprehensif. Early Work hadir menjadi jawaban dari tahapan pertama pekerjaan RDMP RU V Balikpapan yang diharapkan akan menciptakan multiplier effect dari segi ekonomi untuk Balikpapan dan Kalimantan Timur. Dampak dari proyek ini pun mendapat dukungan dari Pemerintah Pusat hingga Pemerintah Daerah sehingga memberikan akselerasi terhadap pemberian izin untuk pelaksanaan proyek Early Work.

Krisis pandemi COVID-19 tidak menghentikan proyek karena pekerjaan terus dilakukan di tengah keterbatasan manpower dan akses distribusi. Kebijakan tersebut diambil untuk mendukung kelancaran proyek RDMP sesuai target. Lebih lanjut, PT Kilang Pertamina Balikpapan memperhatikan aspek HSSE dengan peningkatan intensitas sosialisasi budaya keselamatan kerja sebagai upaya menjamin keselamatan ribuan pekerja. Setiap pekerjaan Early Work dipastikan mematuhi Tata Kelola Perusahaan yang Baik dan tahapan perkembangan proyek dipantau secara berkala agar sesuai spesifikasi melalui koordinasi antar stakeholders.

Amanah yang Harus Dijaga dan Dijalankan Sebaik-Baiknya

Keberhasilan proyek Early Work merupakan legasi bersama. Semangat pembangunan dan pelaksanaan proyek dilandasi oleh peran operasional kilang Balikpapan di masa depan menunjukkan komitmen Pertamina siap menjadi babak baru kebutuhan energi Indonesia. Penugasan dan tanggung jawab yang diberikan untuk PT Kilang Pertamina Balikpapan terhadap RDMP RU V Balikpapan merupakan amanah yang harus dijaga dan dilakukan sebaik-baiknya.

Sepanjang perjalanan, PT Kilang Pertamina Balikpapan telah memupuk sinergi, menjadikan prinsip one team, one spirit, go together untuk maju. Maka, refleksi terhadap perjalanan dan pengalaman dalam pembangunan Early Work melalui Kaleidoskop diharapkan bisa membe- rikan improvement terhadap pekerjaan proyek di masa depan sekaligus menjadi pemantik semangat bagi insan Pertamina untuk terus berkarya dan berdaya.

Cakrawala Proyek

Mewujudkan mimpi untuk negeri dalam kemandirian energi, sebuah pondasi perlu dibangun secara kokoh sebagai penopang perjalanan. Pondasi yang berisi pengerjaan persiapan proyek utama tertuang dalam Early Work PT Kilang Pertamina Balikpapan. Early Work merupakan pekerjaan pendahuluan meliputi penyiapan lahan, pembangunan utilitas pendukung, hingga kebutuhan untuk kesejahteraan pekerja. Sejalan dengan visi yang ingin dicapai oleh PT Kilang Pertamina Balikpapan dalam meningkatkan kapasitas kilang serta kualitas produk, proyek Early Work dilakukan untuk menghemat waktu pada proses eksekusi proyek utama yakni Refinery Development Master Plan di RU V Balikpapan.

RDMP RU V Balikpapan

Banjarmasin

Kapasitas Kilang

Sebelum RDMP

260 RDMP

Sesudah RDMP

360 RDMP

Kualitas Produk

Sebelum RDMP

Euro II

Sesudah RDMP

Euro V

Kompleksitas Kilang, NCI

Sebelum RDMP

3,7

Sesudah RDMP

8,0

Target TKDN

30-35%

Plot Plan Proyek Early Work Kilang Balikpapan

New Workshop & Warehouse

Phase-1 Apartment

Bendungan Pengendali
Banjir (Bendali) Apartment

Procurement of Stone
Column Aggregate

New Lab, Site Office &
HSSE Office

Re-Route Jl Yos Sudarso

Site Development
Lawe-Lawe

Site Development 2A

Relocation of Flare BPP-1

EPCI Sheet Pile

EPC Flare Balikpapan 2, HCC,
Acid Flare

New Sulphur Jetty &
Dredging

Site Development &
Jetty Construction

Flood Prevention

01

Phase-1 Apartment

Milestones:
Kick Off Meeting
15 April 2016
Operational Acceptance
24 Maret 2017

02

Relocation of Flare BPP-1

Milestones:
Kick Off Meeting
16 Maret 2017
Operational Acceptance
16 Januari 2018

03

Site Development & Jetty Construction

Milestones:
Kick Off Meeting
1 Desember 2016
Operational Acceptance
31 Desember 2018

04

EPCI Sheet Pile

Milestones:
Kick Off Meeting
23 November 2017
Operational Acceptance
31 Maret 2019

05

Flood Preventation

Milestones:
Kick Off Meeting
16 Januari 2019
Operational Acceptance
16 Mei 2019

06

Procurement of Stone
Column Aggregate

Milestones:
Kick Off Meeting
20 Februari 2019
Operational Acceptance
31 Mei 2019

08

Bendungan Pengendali
Banjir (Bendali) Apartemen

Milestones:
Kick Off Meeting
23 Juli 2018
Operational Acceptance
22 Januari 2020

09

New Sulphur Jetty & Dredging

Milestones:
Kick Off Meeting
15 April 2019
Operational Acceptance
3 September 2020

07

Site Development
Lawe-Lawe

Milestones:
Kick Off Meeting
14 Januari 2019
Operational Acceptance
29 November 2019

11

EPC Flare Balikpapan 2,
HCC, Acid Flare

Milestones:
Kick Off Meeting
15 Februari 2019
Operational Acceptance
28 April 2021

10

Site Development 2A

Milestones:
Kick Off Meeting
10 April 2019
Operational Acceptance
31 Desember 2020

12

New Workshop & Warehouse

Milestones:
Kick Off Meeting
5 November 2018
Operational Acceptance
30 Juni 2021

14

New Lab, Site Office &
HSSE Office

Milestones:
Kick Off Meeting
2 November 2020
Operational Acceptance
25 Desember 2020

13

Re-Route Jl Yos Sudarso

Milestones:
Kick Off Meeting
14 Januari 2019
Operational Acceptance
31 Agustus 2021

Kilas Balik

Dimulai dengan visi untuk negeri berlanjut dengan dedikasi tanpa henti. Sepanjang perjalanan proyek Early Work, PT Kilang Pertamina Balikpapan telah menunjukkan sinergi–hasil kolektif pengetahuan, keterampilan, inovasi, serta kerjasama yang solid dalam meletakkan sebuah pondasi. Serangkaian proses panjang dalam menyelesaikan 14 proyek menjadi sarana yang tepat untuk mendalami kilas balik proyek Early Work. Mari melangkah bersama menuju cerita penuh dengan makna.

Pondasi Proyek Utama

Peningkatan kapasitas serta kualitas kilang Balikpapan merupakan salah satu bentuk intensifikasi, yakni melakukan penambahan unit proses dan utilitas tanpa pembukaan lahan baru. Keputusan ini diambil karena Pertamina memperhitungkan berbagai aspek, termasuk aspek sosial yang akan mungkin muncul jika mengembangkan kilang dengan membuka lahan di luar lahan milik Pertamina.

Namun, hal ini bukan berarti membuat Early Work tidak mengalami berbagai tantangan dalam pelaksanaannya. Karena itulah, untuk menghasilkan lahan yang siap digunakan pada pelaksanaan proyek RDMP diperlukan perencanaan matang, dan eksekusi yang tepat karena lahan yang akan digunakan terdapat bangunan atau fasilitas eksisting.

Proses penyiapan lahan ini menjadi poin penting dan krusial dalam tahapan eksekusi RDMP RU V Balikpapan karena diharapkan lahan dapat segera digunakan ketika proses Detailed Engineering Design (DED) selesai atau bahkan paralel dengan kegiatan engineering tersebut.

Site Development & Jetty Construction

Pekerjaan Early Work Site Development adalah persiapan lahan untuk memenuhi fungsi RDMP RU V Balikpapan yang akan melakukan revamping dan penambahan beberapa unit baru. Persiapan ini membutuhkan area yang siap digunakan untuk lahan eksekusi proyek ekspansi. Lahan tersebut akan diserahkan pada kontraktor EPC ISBL OSBL, khususnya untuk area New Utilities and Power Island (North OSBL), Jetty construction, Gudang LLP, dengan pekerjaan cutting Gunung 10 serta clearing and grubbing, demolish beton, dan fasilitas lainnya di area ISBL.

Kendala utama pada pekerjaan site development adalah kondisi yang tidak ideal secara pemenuhan sumber daya, baik seperti kesiapan manajemen dan formasi tim Pertamina. Pekerjaan yang dilakukan di kilang eksisting ini pun memiliki temuan yang tidak ditangkap pada FEED dan memiliki deviasi cukup besar sehingga membutuhkan akselerasi dan peningkatan koordinasi dengan pihak terkait.

Koordinasi harus terus ditingkatkan mengingat persiapan lahan yang banyak melakukan pekerjaan demolish dan harus menunggu perilisan fasilitas eksisting dari RU V. Pekerjaan yang seharusnya dieksekusi dalam waktu durasi kontrak itu kerap terlewat karena adanya isu interface dengan RU V sehingga fungsi project control harus mengupayakan solusi terbaik, yakni mencari pengganti bangunan yang akan di-demolish.

Selama kegiatan penggalian serta pembersihan tanah dilakukan dengan cermat karena ditemukan berbagai unforeseen material. Pada saat proses demolish, terdapat sludge, yakni sejenis endapan atau suspensi limbah cair yang berada di area dalam kilang. Keberadaan sludge diluar dugaan dapat dikategorikan sebagai sampah atau limbah yang merupakan hasil timbunan dari bekas drum, kapal, mobil hingga truk yang telah lama ditimbun pada zaman dahulu di area tersebut. Unforeseen ini ditemukan pada saat proses galian sehingga proses pembersihan tanah sebelum demolish ataupun memulai kegiatan pancang menjadi signifikan karena jika pada kedalaman 2-3 meter pancang tidak terpasang dengan sempurna, maka tim Pertamina harus melanjutkan proses penggalian atau penghancuran yang lebih dalam. Akibatnya, pekerjaan untuk konstruksi berikutnya tidak bisa dilaksanakan.

Proses pembelahan Gunung 10 menjadi salah satu hambatan terbesar dalam proyek site development di mana area tersebut masih terdapat satwa liar yang tinggal di dalamnya. Sesuai arahan dan aturan dari tim DLH, pekerjaan ini mengharuskan relokasi satwa dengan baik sebelum pekerjaan berjalan yang akhirnya berhasil direlokasi di wilayah baru dan telah ditentukan oleh DLH.

Tidak hanya relokasi satwa liar, terdapat aturan preservasi lingku- ngan yang harus diperhatikan seperti ketentuan diameter pohon yang akan ditebang. Contohnya, perhitungan tinggi pohon di atas 30 meter ataupun di bawah 30 meter yang wajib diganti sehingga membuat tim Pertamina harus mengeluarkan biaya cukup besar. Pada sisi dalam kilang, penebangan pohon bisa dilakukan karena lahan Pertamina. Namun, beberapa pohon di area luar kilang tidak bisa dilakukan proses penebangan langsung dikarenakan perizinan belum keluar. Jika dilakukan proses cutting terlebih dahulu akan timbul persepsi negatif dari masyarakat sehingga proses cutting dilakukan dengan ekstra hati-hati hingga surat perijinan resmi dikeluarkan oleh Pemerintah setempat.

Lebih lanjut, dari sisi keamanan, lokasi proyek site development memiliki sejarah sebagai lokasi atau markas dari tentara Jepang dan menjadikan salah satu wilayah yang perlu penanganan khusus. Selama proses pengerukan dan pembersihan lahan, ditemukan peninggalan seperti bom aktif dari masa Perang menjadi salah satu yang cukup mengejutkan. Tim Pertamina pun bekerjasama dengan tim Gegana menyusur area. Penanganan selanjutnya soal penemuan bom tersebut akhirnya dibawa oleh Tim Gegana ke Zipur atau lokasi aman yang telah ditentukan dan kemudian diledakkan.

Proses penemuan dan eksekusi terjadi cukup lama dan mempengaruhi durasi timeline pengerjaan proyek. Selain karena membutuhkan keahlian atau treatment khusus untuk penyelesaiannya kerumitan bertambah lagi sebab dalam proses eksekusi juga diperlukan adanya perizinan eksternal, baik dari masyarakat setempat, LSM hingga mengadakan rapat umum di wilayah tersebut. Hal ini dilakukan untuk meminimalisir kesalahpahaman antara pihak Pertamina dengan masyarakat setempat. Permasalahan perizinan juga datang dari izin Amdal dan izin lingkungan lain. Pada prinsipnya keinginan dari KLHK mengenai Amdal sendiri merupakan salah satu ikrar atau janji terhadap lingkungan agar tidak terdampak akibat adanya proses proyek RU V ini baik di darat ataupun di laut. Pada saat proses penandatanganan kontrak dengan vendor kontraktor yang terpilih yakni WIKA, proses bongkar muat alat sudah mulai memasuki area proyek, eksavator sudah siap dijalankan, serta SDM sudah siap dimulai. Namun, kendala tersebut menjadikan adanya penundaan dalam perjalanan proyek.

Permasalahan perizinan juga datang dari izin Amdal dan izin lingkungan lain. Pada prinsipnya keinginan dari KLHK mengenai Amdal sendiri merupakan salah satu ikrar atau janji terhadap lingkungan agar tidak terdampak akibat adanya proses proyek RU V ini baik di darat ataupun di laut. Pada saat proses penandatanganan kontrak dengan vendor kontraktor yang terpilih yakni WIKA, proses bongkar muat alat sudah mulai memasuki area proyek, eksavator sudah siap dijalankan, serta SDM sudah siap dimulai. Namun, kendala tersebut menjadikan adanya penundaan dalam perjalanan proyek.

Tim Pertamina juga mendapat resistensi dari faktor eksternal yang disebabkan oleh masyarakat sekitar seperti LSM. Adanya demo dan komplain dari beberapa LSM cukup memperumit keadaan. Terlebih, terdapat perubahan dalam jajaran direksi sehingga penyelesaian masalah juga dengan LSM terkendala. Selain permasalahan dengan LSM, kendala di luar kilang juga cukup banyak dan rumit seperti beberapa area pengerjaan site development 1 berdekatan dengan wilayah atau stadion sepak bola milik Pemerintah Daerah (Pemda) Balikpapan sehingga mengharuskan stadion tersebut untuk direlokasi.

Persetujuan relokasi sudah dikeluarkan, namun Pemda Balikpapan mengharuskan pihak Pertamina untuk menyiapkan stadion terlebih dahulu sebelum proses relokasi dikarenakan adanya liga pertandingan sepak bola skala Nasional yang akan diselenggarakan di stadion tersebut. Hal tersebut berimplikasi pada segi keamanan karena area rumah di sekitar Stadion sudah memasuki tahap demolish. Mengingat pertandingan liga ini berskala Nasional, maka tingkat pembatalan sepihak akan terlampau sulit. Tim Pertamina pun bekerjasama dengan pihak keamanan untuk memastikan situasi bisa terpantau dan terkondisikan dengan baik.

Sebagai pondasi proyek utama Early Work, maka Site Development dikerjakan bersamaan dengan Jetty Construction. Jetty Construction ini dibangun karena jetty yang ada di Kilang Balikpapan tidak mampu menampung spesifikasi dan beban muatan yang begitu besar. Jetty ini akan difungsikan sebagai fasilitas pelabuhan khusus yang akan menjadi infrastruktur kunci yang memfasilitasi pengiriman alat berat untuk instalasi EPC saat RDMP berjalan. Melalui dermaga yang sesuai spesifikasi dan kokoh akan memberikan akses optimal untuk kebutuhan material dan peralatan. Kehadiran jetty siap menjadi pintu gerbang utama bagi kemajuan proyek dan perkembangan Early Work secara keseluruhan.

Jetty Construction ini berperan dalam percobaan penjemputan peralatan dengan berat mencapai 15 hingga 30 Ton. Jetty menjadi titik awal untuk memudahkan serta mendukung proses pengerjaan Early Work karena semua akses suplai material dilakukan melalui jalur laut. Dalam proses pembangunannya, Jetty Construction menggunakan tiang pancang sebagai pondasi utama. Saat dilakukan pemasangan tiang pancang terdapat beberapa kesulitan karena tidak adanya catatan dan pengawasan proyek sehingga pemancangan dapat terpasang. Ketika dilakukan penyelaman, ditemukan titik utama permasalahan yakni adanya potongan besi, plat, dan tiang pancang yang berada di pinggir laut. Hal ini mengakibatkan adanya change order di dalam kontrak proyek tersebut.

Lebih lanjut, pada saat proses pembangunan Jetty Construction, kendala tidak hanya datang dari daratan melainkan dalam sisi laut pun muncul yang mana memerlukan proses menjangkau dasar laut sedalam 210 meter. Seiring berjalannya waktu, ternyata dalam proses penanaman pancang untuk jembatan mengalami hambatan sebab ditemukannya rel kereta api yang ternyata dibuang di dalam dasar laut oleh para pendahulu. Penemuan unforeseen tersebut menyebabkan penanaman pancang Jetty Construction tidak bisa terpasang dengan sempurna.

Proses pemancangan untuk jembatan Jetty Construction cukup memakan waktu yang panjang karena faktor unforeseen. Dengan sigap, tim Pertamina berkoordinasi dan bekerjasama dengan regu penyelam untuk mengangkat material yang menghambat proses penanaman pancang.

Pekerjaan untuk mengangkat unforeseen tersebut tidak bisa langsung diseksekusi karena membutuhkan pembersihan menggunakan kompresor dan crane.

Unforeseen lainnya, yakni adanya bangkai kapal, plat besi hingga bangkai tank yang berada di dasar laut juga menghambat proses pemancangan. Guna mengatasi hal ini, maka dredging menjadi tidak terhindarkan. Regu penyelam kembali diturunkan untuk mengecek sedalam 20 meter dari permukaan laut untuk melihat hambatan yang menghalangi di sekitar pemasangan alat pemancang. Hambatan tidak terduga yang cukup mengejutkan di saat regu penyelam mencari titik permasalahan adalah kemunculan hewan se- perti buaya muara yang menghalangi proses pencarian titik. Beberapa cara pun dikerahkan agar proses pemancangan berjalan dengan lancar, seperti penggunaan crawler untuk memungut unforeseen yang berada di dasar laut.

Menimbang kendala unforeseen yang mengganggu proses pemasangan tiang pancang, tim Pertamina berinisiatif untuk lebih memperketat setiap aspek pekerjaan. Seperti halnya kendala unforeseen yang terdapat pada Site Development, hal ini juga berpengaruh besar terhadap timeline pekerjaan dan menyebabkan kesulitan saat proses aktualisasi berjalan.

Maka dari itu, histori catatan proyek menjadi krusial adanya. Setiap perencanaan, sisa material harus terdokumentasi dengan baik untuk proyek ekspansi di masa depan sehingga dapat mempengaruhi kelancaran proses pengerjaan. Dalam lingkup proyek ini, detail teknis dan sinergi dari tim Pertamina menjadi faktor kunci dalam mengatasi permasalahan di lapangan sehingga proyek Site Development bisa terselesaikan dan Operational Acceptance bisa terselesaikan pada tanggal 31 Desember 2018 sehingga dengan ini area yang akan digunakan di proyek EPC ISBL OSBL telah dinyatakan siap dan diserahterimakan ke Kontraktor EPC ISBL OSBL.

Site
Development 2A

Pekerjaan penyiapan lahan atau site development pada proyek Early Work terbagi menjadi dua tahapan. Pembersihan dan persiapan lahan sebagian telah dikerjakan pada tahap 1, namun mengingat kebutuhan yang berada di sisi fasilitas eksisting masih terdapat beberapa bangunan berupa area rawa-rawa maupun hutan sehingga pekerjaan site development 2A harus dilakukan. Proyek ini bertujuan agar proses pembangunan plot plan kilang terbaru bisa dieksekusi sekaligus diserahterimakan ke kontraktor EPC, ISBL, dan OSBL untuk optimalisasi operasional RDMP RU V Balikpapan. Lahan pada proyek Site Development 2A ini nantinya akan digunakan untuk kebutuhan beberapa area, yakni untuk ISBL sebagai FRCC, NHT, DHT, Gasoline Block, Alkylation, area OSBL Selatan Spherical tank, PCT, area Gunung 10 untuk Gasoline tank, finishing WWTP Area serta Jembatan Gate 5A.

Ruang lingkup pekerjaan site development 2A didominasi oleh pekerjaan sipil. Pekerjaan sipil ini meliputi pekerjaan soil cutting and soil filling, compacting untuk persiapan lahan, pekerjaan demolish bangunan eksisting, pembangunan akses seperti jalan sementara dan jembatan untuk mempermudah konstruksi. Tidak hanya itu, terdapat pekerjaan elektrikal dan piping yang bertujuan meningkatkan fasilitas kilang.

Pada tahapan awal site development 2A, infrastruktur yang memadai masih belum tersedia sehingga dibangunlah akses jalan sementara sebagai media transportasi untuk kendaraan berat untuk kebutuhan konstruksi

Pekerjaan penyiapan lahan atau site development pada proyek Early Work terbagi menjadi dua tahapan. Pembersihan dan persiapan lahan sebagian telah dikerjakan pada tahap 1, namun mengingat kebutuhan yang berada di sisi fasilitas eksisting masih terdapat beberapa bangunan berupa area rawa-rawa maupun hutan sehingga pekerjaan site development 2A harus dilakukan. Proyek ini bertujuan agar proses pembangunan plot plan kilang terbaru bisa dieksekusi sekaligus diserahterimakan ke kontraktor EPC, ISBL, dan OSBL untuk optimalisasi operasional RDMP RU V Balikpapan. Lahan pada proyek Site Development 2A ini nantinya akan digunakan untuk kebutuhan beberapa area, yakni untuk ISBL sebagai FRCC, NHT, DHT, Gasoline Block, Alkylation, area OSBL Selatan Spherical tank, PCT, area Gunung 10 untuk Gasoline tank, finishing WWTP Area serta Jembatan Gate 5A.

Ruang lingkup pekerjaan site development 2A didominasi oleh pekerjaan sipil. Pekerjaan sipil ini meliputi pekerjaan soil cutting and soil filling, compacting untuk persiapan lahan, pekerjaan demolish bangunan eksisting, pembangunan akses seperti jalan sementara dan jembatan untuk mempermudah konstruksi. Tidak hanya itu, terdapat pekerjaan elektrikal dan piping yang bertujuan meningkatkan fasilitas kilang.

Pada tahapan awal site development 2A, infrastruktur yang memadai masih belum tersedia sehingga dibangunlah akses jalan sementara sebagai media transportasi untuk kendaraan berat untuk kebutuhan konstruksi

Kabel-kabel yang sebelumnya masuk di area rencana proyek itu dialihkan agar siap digunakan. Dari dokumen awal FEED yang diterima, terdapat penyesuaian dan penyempurnaan pada fase DED (Detailed Engineering Drawing) di proyek EPC itu agar bisa dipakai oleh tim konstruksi sebagai panduan untuk melakukan pekerjaan. Kompleksitas kendala kabel di site development 2A ini dapat diilustrasikan sebagai berikut: pergeseran titik yang awalnya berada di titik A diproyeksikan akan bergeser sekitar 100 meter menuju titik B. Namun, kondisi yang ditemukan di lapangan adalah kabel yang akan disambung berada di titik B, bukan di titik A. Merespon ketidaksesuaian yang ada di lapa- ngan, maka ketika ditemukan jalur kabel tetap dan tidak akan dipindah, pekerjaan konstruksi dilakukan secara paralel sembari terus melakukan pencarian titik-titik yang akan dilakukan tie-in. Tim Pertamina beruntung karena perpindahan titik tie-in dengan kabel yang telah dibeli kontraktor masih memadai sehingga tidak ada tambahan procurement. Terkait isu drawing yang tidak sesuai dari perencanaan awal karena adanya jalur kabel aktif, tim Pertamina dengan tanggap melaksanakan survei secara berkala untuk mencari titik kabel yang sesuai yang akan dipindahkan dengan berkoordinasi secara ekstensif bersama rekan dari RU V yang lebih berpengalaman dan memahami area kilang. Kendala terkait jalur kabel ini tidak hanya berlaku di area kilang, namun juga di luar area kilang. Pemantauan telah dilakukan secara ketat, namun proses instalasi masih mengalami gangguan karena jalur kabel tersebut dipotong pihak yang tidak bertanggung jawab.

Temuan yang mengganggu juga dialami saat melakukan pekerjaan piping, yakni pekerjaan pengalihan pipa-pipa yang sebelumnya masuk area rencana proyek RDMP menuju ke clear area. Pada proyek piping, terdapat sekitar 17 modifikasi test package yang harus dipindahkan jalur pipa eksistingnya untuk meminimalisir hambatan terhadap pekerjaan bagi kontraktor selanjutnya.

Muncul berbagai unforeseen yang tidak kalah menantang karena permasalahan pipa air beserta pipa minyak yang melewati area demolish lahan site development ini terdapat puing bangunan yang telah berdiri sejak zaman dulu yang berada di bawah timbunan tanah. Saat melakukan pekerjaan di badan jalan bahkan ditemukan rel yang dulunya difungsikan sebagai transportasi operasional kilang. Keberadaan berbagai unforeseen yang tidak diperkirakan dan muncul dalam proses perencanaan mengakibatkan pekerjaan demolish site development menjadi lebih rumit.

Kompleksitas ini kian terasa karena area kerja yang bersamaan dengan kontraktor lain dan keterlambatan dalam serah terima kepada kontraktor. Pada proyek site development 2A kontraktor untuk EPC memiliki spesifikasi yang presisi sehingga pada proses serah terima, desain acuan yang dipegang oleh kontraktor untuk penerimaan sebuah lahan vs apa yang dikerjakan banyak mengalami perbedaan. Sebagai contoh, di spesifikasi tertulis elevasi senilai 5,5, tapi pemenuhannya senilai 4,5. Namun, kendala ini juga tidak serta merta menjadi kesalahan dan kekurangan tim konstruksi karena jika melihat kondisi di lapangan, masalah permukaan atau elevasi permukaan tanah memang tidak bisa konkret. Terlebih, jika mempertimbangkan kendala cuaca saat hujan. Tanah yang tadinya padat kemudian tergerus air sehingga terdapat area yang harus dilakukan re-grading dan pemadatan ulang.

Selain kendala yang terjadi di dalam kilang, pekerjaan site development 2A juga melakukan persiapan lahan di area luar kilang, seperti lahan untuk parkir, workshop, atau jalur boiler. Pekerjaan di luar kilang ini pun rentan akan per

masalahan dengan pihak luar, seperti masyarakat sekitar dan Organisasi Masyarakat (Ormas). Di depan gerbang RU 5 Balikpapan terdapat cagar budaya, Tugu Peringatan Demonstrasi Rakyat Kalimantan melawan Belanda. Dari hasil observasi, bangunan tersebut akan terdampak jalur jembatan pekerjaan boiler sehingga relokasi Tugu tersebut harus dilakukan. Proses pemindahannya cukup sulit karena ada pertentangan dari Ormas dan warga yang saling mengklaim kepemilikan Tugu tersebut. Adanya resistensi dari masyarakat ini kian menjadi situasi yang menegangkan karena spanduk-spanduk provokatif mulai bermunculan sehingga tim Pertamina melakukan eskalasi isu ke stakeholders, yakni Walikota Balikpapan yang pada akhirnya bersedia turun tangan untuk mengatasi isu tersebut. Guna mengantisipasi kondisi yang tidak kondusif,

Tidak hanya berkaitan dengan teknis, dalam proses pengadaannya, beberapa kendala yang dialami dalam proyek ini adalah keterbatasan lahan yang dimiliki oleh Direksi KEET untuk tempat penyimpanan material harus berpindah-pindah. Selain itu, pengadaan material sipil dan elektrikal dari luar negeri membutuhkan upaya ekspedisi profesional. Proses pengadaan tanah urug juga terkendala oleh cuaca dan kondisi laut saat kapal tongkang beroperasi, serta keterbatasan penggunaan jetty untuk kapal bersandar.

Hambatan dan tantangan yang lekat dalam ingatan tim Pertamina adalah pandemi COVID-19. Tidak bisa dipungkiri pengerjaan proyek menjadi terganggu akibat adanya pandemi karena tidak ada rincian dalam pro- ses perencanaan awal. Kendala terberat yang hadir saat masa pandemi yakni jumlah manpower yang harus turun drastis. Proses mendatangkan manpower pendukung dari luar RU V Balikpapan juga terkendala syarat ketat untuk mengizinkan penambahan manpower baru pada saat pandemi dimana semua proses protokol kesehatan harus diterapkan baik mulai melakukan tes PCR, vaksin, hingga karantina. Tidak hanya manpower, suplai arus barang yang menjadi salah satu segmen equipment yang didatangkan khusus juga terhambat saat pandemi Covid 19, sehingga menyebabkan proses produksi juga terkendala oleh keterbatasan.

Di tengah keterbatasan pandemi, tim berupaya optimal dan proyek Early Work Site Development 2A berhasil melaksanakan Operational Acceptance pada tanggal 31 Desember 2020. Kini, lahan pun telah diserahterimakan kepada kontraktor EPC ISBL OSBL sekaligus dilakukan instalasi peralatan kilang.